Ya Allah, terlalu kotor diri ini untuk menyentuh Mu. Tapi pada siapa aku harus menghambakan jiwa ini di sudut bumi yang kian memanas?. Kemana lagi harus kugantung resah ini di sisi hidup yang kian tak bermakna. Aku cemburu pada mereka yang hatinya kau tetesi hidayah, aku cemburu pada mereka yang kekayaannya terlapisi berkah dan aku teramat cemburu pada mereka yang kehidupannya disinari Iman. Aku ingin seperti mereka, Ya Allah... Aku ingin, meski terlalu kecil jiwa ini di hadapanmu. Terlalu hina diri ini di kakiMu. dan terlalu jauh hati ini dari tanganMu. Jangan jadikan aku bagian dari orang2 yang aku ingin marah ketika mereka menjauhiMu, mengabaikan perintah2Mu padahal mereka berkata bahwa mereka percaya hanya Enggkaulah pemilik segala yang ada di bumi dan langit ini.

1.28.2009

220 Kasus Kekerasan Pers Selama Era Reformasi

Assalamulaikum,,, bu Desi ku yg tercinta...
Pers yah... Hm...
Baiklah,,silakan d koreksi ibu...
Tp ? terlebih dahulu mari kita berbincang2 pertama latar belakang Masalahnya ya bu ?

Yaitu:
Ketika reformasi tahun 1998 digulirkan di Indonesia, pers nasional bangkit dari keterpurukannya dan kran kebebasan pers dibuka lagi yang ditandai dengan berlakunya UU No.40 Tahun 1999. berbagai kendala yang membuat pers nasional "terpasung", dilepaskan. SIUUP (surat izin usaha penerbitan pers) yang berlaku di Era Orde baru tidak diperlukan lagi, siapa pun dan kapan pun dapat menerbitkan penerbitan pers tanpa persyaratan yang rumit. Dan euforia reformasi pun hampir masuk, baik birokrasi pemerintahan maupun masyarakat mengedepankan nuansa demokratisasi. Namun, dengan maksud menjunjung asa demokrasi, sering terjadi "ide-ide" yang permunculannya acap kali melahirkan dampak yang merusak norma-norma dan etika. Bahkan cenderung mengabaikan kaidah profesionalisme, termasuk bidang profesi kewartawanan dan pers pada umumnya. Malah kalangan instansi pemerintahan swasta dan masyarakat ada yang berpandangan sinis terhadap aktivitas jurnalistik yang dicap tidak lagi menghormati hak-hak narasumber. Penampilan pers nasional/daerah pun banyak menuai kritik dan dituding oleh masyarakat. Sementara disisi alin banyak contoh kasus dan kejadian yang menimpa media massa, dan maraknya initmidasi serta kekerasan terhadap wartawan Pada tahun 2003-2004, perkara yang menarik perhatian public yaitu menimpa dua massa media nasional Harian "Kompas" dan grup MBM "Tempo" digugat grup. PT Texmaco ke PN Jakarta Selatan. Kedua perkara tersebut kemudian dicabut ketika proses perkaranya sedang berjalan dipersidangan. Dalam kasus "Rakyat Merdeka", majelis hakim memutuskan bahwa pemred Rakyat merdeka dihukum karena terbukti turut membantu penyebaran. Peningkatan kuantitas penerbitan pers yang tajam (booming), tidak disertai dengan pernyataan kualitas jurnalismenya. Sehingga banyak tudingan "miring" yang dialamatkan pada pers nasional. Ada juga media massa yang dituduh melakukan sensionalisme bahasa melalui pembuatan judul (headlines) yang bombasis, menampilkan "vulgarisasi: dan erotisasi informasi seks. Tetapi tentu saja kita tidak dapat melakukan generalisasi, harus diakui, bahwa masih banyak media massa yang mencoba tampil dengan elegan dan beretika, daripada yang menyajikan informasi sampah dan berselera rendah (bad taste)
Nah barulah ke pengertiannya ibu..!Inilah pengertiannya ibu yg fathul ambil dari MAKALAH-PERS
A. Pengertian Pers
Apa bedanya jurnalistik dengan pers? Dalam pandangan orang awam, jurnalistik dan pers seolah sama atau bisa dipertukarkan satu sama lain.Sesungguhnya tidak, jurnalistik menujuk pada proses kegiatan, sedangkan pers berhubungan dengan media. Dengan demikian jurnalistik pers berarti proses kegaitan mencari, menggali, mengumpulkan, mengolah, memuat dan menyebarkan berita melalui media berkala pers yakni sura kabar, tabloid atau majalah kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya.

B. Sejarah perkembangan pers.

Pada zaman pemerintahan Cayus Julius (100-44 SM) di negara Romawi, dipancangkan beberapa papan tulis putih di lapangan terbuka di tempat rakyat berkumpul. Papan tulis yang disebut Forum Romanum itu berisi pengumumanpengumuman resmi. Menurut isinya, papan pengumuman ini dapat dibedakan atas dua macam. Pertama Acta Senatus yang memuat laporan-laporan singkat tentang sidang-sidang senat dan keputusan-keputusannya. Kedua, Acta Diurna Populi Romawi yang memuat keputusan-keputusan dari rapat-rapat rakyat dan beritaberita lainnya. Acta Diurna ini merupakan alat propaganda pemerintah Romawi yang memuat berita-berita mengenai peristiwa-peristiwa yang perlu diketahui oleh rakyat.

C. Sejarah perkembangan pers dunia (Eropa)

Sejarah perkembangan pers di dunia khusunya di eropa tak pernah jauh merupakan cerminan dari pada zaman Romawi dan ditandai dengan lahir wartawan-wartawan pertama. Wartawan-wartwan ini terdri atas budaj-budak belian yang leh pemiliknya diberi tugas mengumpulkan informasi, berita-berita, bahkan juga menghadiri sidang-sidang senat dan melaporkan semua hasilnya baik secara lisan maupun tulisan. Surat kabar cetakan pertama baru terbit pada tahun 911 di Cina. Namanya King Pau, Surat kabar milik pemerintah yang diterbitkan dengan suatu peraturan khusus dari Kaisar Quang Soo ini, isinya adalah keputusan-keputusan rapat-rapat permusyawaratan dan berita-berita dari istana.

Dan yang akan fathul bahas adalah...

220 Kasus Kekerasan Pers Selama Era Reformasi

Banda Aceh ( Berita ) : Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat terjadinya 220 kasus kekerasan terhadap pekerja pers terjadi dalam 10 tahun era reformasi sejak 1998-2008.

“Meski sudah era reformasi, pers di Indonesia belum sepenuhnya bebas berekspresi disebabkan masih adanya berbagai bentuk intimidasi dan kekerasan fisik terhadap pekerja pers,” kata Koordinator Divisi Advokasi AJI Indonesia, Eko Maryadi, di Banda Aceh, Minggu [28/12].

Eko Maryadi menyebutkan dari 220 kasus kekerasan terhadap wartawan tersebut maka enam wartawan di antaranya meninggal dunia.

Sementara sepanjang 2008 hingga pertengahan Desember 2008 terjadi 59 kasus kekerasan terhadap pers , yang 24 kasus di antaranya merupakan bentuk kekerasan fisik.

Kekerasan terhadap pers tertinggi terjadi di Jakarta sementara dari jumlah tersebut empat kasus terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
kebebasan pers di Indonesia menurut Eko masih dihantui berbagai macam ancaman fisik dan nonfisik terlebh lagi Aceh yang baru keluar dari masa konflik sehingga masih adanya kecurigaan berlebihan dari pihak yang sebelumnya bertikai.

Kekerasan fisik terhadap pers berupa penyerangan, teror, intimidasi, dan lainnya disebabkan masih kurangnya pemahaman penegak hukum, pejabat, masyarakat dan pihak lainnya terhadap kebebasan pers.

“Keberadaan Pers di Indonesia dilindungi Undang-Undang (UU) No.40/1999 tentang pers. Namun ironisnya para penegak hukum masih mengabaikan UU itu, khususnya dalam menangani sengketa pers,” ujar Eko.

Para penegak hukum cenderung masih menggunakan pasal-pasal dalam KUHPidana dalam menyelesaikan sengketa pers padalah sudah ada UU yang mengatur tentang itu.

Penegak hukum kerap menggunakan 42 pasal dalam KUHP yang bisa menjerat wartawan khususnya terkait pencemaran nama baik. Eko mencontohkan kasus yang menimpa kontributor Metro TV di Makassar, Upi yang dijadikan tersangka oleh Polda Sulawesi Selatan karena dinilai telah mencemarkan nama baik sang Kapolda.

nah yang ini teori yang mendukung UU Pers No 40 tahun 1999

Teori yang mendukung:
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999
TENTANG P E R S BAB III
WARTAWAN
Pasal 7
(1) Wartawan bebas memilih organisasi wartawan.
(2) Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik.
kode etik jurnalistik;
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Sumber :http://ivantoebi.wordpress.com/2008/12/19/pers-era-reformasi/
http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.l-escargot.nl/imag

Analisis : Menurut saya, Pejabat, aparat pemerintah dan penegak hukum dapat lebih memahami mengenai UU kebebasan pers sehingga kekerasan pers tidak merajalela di Indonesia sampai saat ini, dan ada mekanisme sendiri yang dapat ditempuh jika seseorang merasa ada yang salah dengan pemberitaan wartawan, yaitu bisa mengajukan hak jawab dan jika tak diberikan harus dilaporkan ke Dewan Pers tapi bukan langsung menuntut wartawannya.

Dan siapapun pasti berharap sejumlah pihak mengerti keberadaan dan kebasan pers, karena wartawan bekerja bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang banyak, bangsa dan negara. ( ant )
Bu,,hany ini yg dapat fathul tampilin.. nilainya terserah ibu deh..tp..jng kerendahan ibu..hehehe

6 comments:

Mengharap Ridho Illahi mengatakan...

Artikelnya bagus tul, tapi ada yang kurang nih, jangan marah ya.....

1. Tidak ada analisis secara teori untuk menguatkan artikel di atas

2. Pendapat kamu tentang artikel tersebut, gimana mau diperbaiki lagi gak sebelum ibu masukin ke nilai nih.....

Green School mengatakan...

Artikelnya bagus tul, tapi ada yang kurang nih, jangan marah ya.....

1. Tidak ada analisis secara teori untuk menguatkan artikel di atas

2. Pendapat kamu tentang artikel tersebut, gimana mau diperbaiki lagi gak sebelum ibu masukin ke nilai nih.....

Green School mengatakan...

sori ya...buat komen yang " mengharap ridho Illahi " itu id nya bu jum, ibu lagi garap blognya....

Green School mengatakan...

ok deh, dah komplit, lain kali postingannya dibuat dengan rapi ya khusus untuk tata tulisnya.....100 deh buat kamu.........

finalsenses mengatakan...

ijin mengambil artikel buat tugas

Unknown mengatakan...

sis mw tanya boleh ?
peran pemerintah dalam peristiwa ini apa ya ?

Posting Komentar

 
© 2008 Por FakThuL JannaH