Ya Allah, terlalu kotor diri ini untuk menyentuh Mu. Tapi pada siapa aku harus menghambakan jiwa ini di sudut bumi yang kian memanas?. Kemana lagi harus kugantung resah ini di sisi hidup yang kian tak bermakna. Aku cemburu pada mereka yang hatinya kau tetesi hidayah, aku cemburu pada mereka yang kekayaannya terlapisi berkah dan aku teramat cemburu pada mereka yang kehidupannya disinari Iman. Aku ingin seperti mereka, Ya Allah... Aku ingin, meski terlalu kecil jiwa ini di hadapanmu. Terlalu hina diri ini di kakiMu. dan terlalu jauh hati ini dari tanganMu. Jangan jadikan aku bagian dari orang2 yang aku ingin marah ketika mereka menjauhiMu, mengabaikan perintah2Mu padahal mereka berkata bahwa mereka percaya hanya Enggkaulah pemilik segala yang ada di bumi dan langit ini.

12.14.2008

Saat sendiri








Jika ada waktu yang paling tepat untuk merasakan betapa pentingnya peran orang lain bagi diri kita, adalah pada saat kita sendiri " g percaya:-?" Cobalah eja saat-saat itu, lalu susunlah ia menjadi bangunan yang bernama kepentingan. Kita akan merasakan betapa kita punya begitu banyak kepentingan kepada orang lain, baik kita sadari secara langsung maupun tidak.


Misalnya Dewan juri yang memanggil seorang juara, Tentu hanya akan menyebut nama orang yg bersangkutan. Padahal di belakang sang juara itu pasti ada sejumlah tangan yang berperan penting dalam kehidupannya. Orang tua, teman, guru, pelatih, suporter, misalnya.

Mereka ini tentu tahu diri untuk tidak mengklaim bahwa diri mereka punya aandil bagi sang juara. Tetapi jika dipikir-pikir, peran peran mereka tidak kecil, justru menjelaskan apa sesungguhnya peran yang dimainkan sang juara.

Cobalah dimulai dari orang tua, jika mereka tidak merestui sang juara untuk bertanding, mungkin ceritanya akan lain. Begitu juga teman, guru, pelatih, atau suporter. Bayangkanlah jika tak ada sesosok mereka disamping sang calon juara yang sedang bertarung dalam pertandingan. Jadi ? sesungguhnya ketika namanya di panggil sebagai pemenang, sang juara hanyalah sedang memainkan sebuah peran, menjadi duta bagi orang tua, teman, guru, pelatih, atau suporter yang telah mengamanahkan sebuah kepercayaan kepada dirinya.

Pada saat sendiri kita baru merasakan betapa terlalu lemahnya diri kita jika harus bertarung seorang diri. Disinilah kita baru merasakan bahwa diri kita sesungguhnya tidak menyediakan tempat bagi kesombongan, karena seluruh ruangannya telah diisi oleh jasa-jasa orang lain yang tak terhitung jumlahnya. Ketika kesombongan telah menguasai diri kita, tentu kita tahu bahwa inilah yang sedang terjadi, kita mengusir jasa-jasa orang lain dari ruang-ruang diri kita. Kita kosongkan ruuang-ruang itu, lalu kita undang kesombongan untuk bersemayam di dalamnya.

3 comments:

Hannamuts mengatakan...

:o bagus dek artikelnya... bermakna bgt...:((

fathul jannah ...!i mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
fathul jannah ...!i mengatakan...

sama2 kk ..:))

Posting Komentar

 
© 2008 Por FakThuL JannaH