Jika ada waktu yang paling tepat untuk merasakan betapa pentingnya peran orang lain bagi diri kita, adalah pada saat kita sendiri " g percaya:-?" Cobalah eja saat-saat itu, lalu susunlah ia menjadi bangunan yang bernama kepentingan. Kita akan merasakan betapa kita punya begitu banyak kepentingan kepada orang lain, baik kita sadari secara langsung maupun tidak.
Misalnya Dewan juri yang memanggil seorang juara, Tentu hanya akan menyebut nama orang yg bersangkutan. Padahal di belakang sang juara itu pasti ada sejumlah tangan yang berperan penting dalam kehidupannya. Orang tua, teman, guru, pelatih, suporter, misalnya.
Mereka ini tentu tahu diri untuk tidak mengklaim bahwa diri mereka punya aandil bagi sang juara. Tetapi jika dipikir-pikir, peran peran mereka tidak kecil, justru menjelaskan apa sesungguhnya peran yang dimainkan sang juara.
Cobalah dimulai dari orang tua, jika mereka tidak merestui sang juara untuk bertanding, mungkin ceritanya akan lain. Begitu juga teman, guru, pelatih, atau suporter. Bayangkanlah jika tak ada sesosok mereka disamping sang calon juara yang sedang bertarung dalam pertandingan. Jadi ? sesungguhnya ketika namanya di panggil sebagai pemenang, sang juara hanyalah sedang memainkan sebuah peran, menjadi duta bagi orang tua, teman, guru, pelatih, atau suporter yang telah mengamanahkan sebuah kepercayaan kepada dirinya.
Pada saat sendiri kita baru merasakan betapa terlalu lemahnya diri kita jika harus bertarung seorang diri. Disinilah kita baru merasakan bahwa diri kita sesungguhnya tidak menyediakan tempat bagi kesombongan, karena seluruh ruangannya telah diisi oleh jasa-jasa orang lain yang tak terhitung jumlahnya. Ketika kesombongan telah menguasai diri kita, tentu kita tahu bahwa inilah yang sedang terjadi, kita mengusir jasa-jasa orang lain dari ruang-ruang diri kita. Kita kosongkan ruuang-ruang itu, lalu kita undang kesombongan untuk bersemayam di dalamnya.

renungan
Lihat profil lengkapku








3 comments:
:o bagus dek artikelnya... bermakna bgt...:((
sama2 kk ..:))
Poskan Komentar