Ya Allah, terlalu kotor diri ini untuk menyentuh Mu. Tapi pada siapa aku harus menghambakan jiwa ini di sudut bumi yang kian memanas?. Kemana lagi harus kugantung resah ini di sisi hidup yang kian tak bermakna. Aku cemburu pada mereka yang hatinya kau tetesi hidayah, aku cemburu pada mereka yang kekayaannya terlapisi berkah dan aku teramat cemburu pada mereka yang kehidupannya disinari Iman. Aku ingin seperti mereka, Ya Allah... Aku ingin, meski terlalu kecil jiwa ini di hadapanmu. Terlalu hina diri ini di kakiMu. dan terlalu jauh hati ini dari tanganMu. Jangan jadikan aku bagian dari orang2 yang aku ingin marah ketika mereka menjauhiMu, mengabaikan perintah2Mu padahal mereka berkata bahwa mereka percaya hanya Enggkaulah pemilik segala yang ada di bumi dan langit ini.

12.14.2008

bukti







Apa yang harus kita lakukan untuk mempercayai sesuatu! Pasti kita perlu bahkan bukti!
setidak-tidaknya jika mengingat bahwa mempercayai sesuatu upaya meyakinkan akal sehat. Tanpa bukti, akal sehat akan menggeleng, kecuali kita memaksanya untuk mengangguk.

Urusan kita dengan bukti sudah dimulai sejak kita berada didalam kandungan. Kita adalah bukti dari hubungan yang dijalin oleh bapak dan ibu kita.
Kedua orang tua kita itu adalah bukti bahwa kita punya kakek dan nenek. Apakah kita bisa menafikkan bukti-bukti itu! Bisa saja sih, asalkan kita percaya bahwa kelahiran kita bukan melalui ibu, melainkan muncul begitu saja dari sela-sela batu he:))

Bukti kemudian menjadi komoditas penting, dalam urusan kita dengan orang lain. Jika kita mengaku kepada orang lain bahwa kita fasih berbahasa inggris, tentu orang menginginkan buktinya. Dan jika mengaku bahwa kita adalah penduduk amerika , tentu orang mengharapkan buktinya (KTP)

Bukti memang menyangkut tampak fisik yang di perlukan untuk meyakinkan hati. Dia tidak bisa berupa pengakuan pihak lain (saksi) yang hanya bermodal keterangan "kayak dia, kalau g salah si dia, patut di duga y dia..." Itulah kenapa untuk mempercayai Allah pun kita memerlukan bukti fisik berupa penciptaan langit dan bumi. Dan memang itulah yang dilakukan Allah, Dia menciptakan bumi dulu (bukti fisik) baru mengutus para Nabi yang membawa bukti secara tertulis (Al-Qur'an, Taurat, Zabur, Injil)

Jadi...? kita memang dididik untuk hidup berdasarkan aturan hukum, bukan liar dan seenak pikiran. Kalau sekedar bikin tuduhan atau pengakuan, semua orang juga bisa. Tanpa bukti, setiap tuduhan atau pengakuan hanya akan jadi dagelan.

sehinga ? jangan percaya sama orang lain tanpa "BUKTI" OK !

0 comments:

Posting Komentar

 
© 2008 Por FakThuL JannaH